Temen-temen semua... Welcome in my BloG.. meskipun isinya sederhana... kalo ini bisa membantu temen-temen semua,, aku bersyukur banget.. So.. Enjoy this BloG.. !!!!
Sabtu, 09 April 2011
Novel Ranah 3 Warna
Ranah 3 Warna adalah kelanjutan dari novel sebelumnya, Negeri 5 Menara, karya A. Fuadi. Baik Ranah 3 Warna (R3W), maupun Negeri 5 Menara (N5M) tidaklah novel yang sanggup berdiri sendiri, artinya kita tak bisa membaca R3W tanpa membaca yang sebelumnya.
Bila belum membaca N5M, maka sebaiknya ditunda dulu membaca R3W. Atau bila sudah membaca N5M, sebaiknya diteruskan dengan membaca R3W. Hal ini disebabkan, kedua novel tersebut tak sanggup berdiri sendiri dengan kekuatan yang berbeda.
Dalam novel Negeri 5 Menara, setiap cerita nyaris diisi dengan latar Pondok Madani, Gontor. Hanya beberapa kali muncul latar cerita yang lain. Ada loncatan alur, ketika tokoh utama, Alif, berada di Amerika ataupun ketika pada akhir cerita, ia bertemu dengan beberapa temannya, Sahibul Menara, di London. Pada dasarnya, N5M adalah kenangan tokoh Alif ketika ia menjadi orang sukses.
Ranah 3 Warna menceritakan Alif ketika ia mencoba meneruskan pendidikan ke Perguruan Tinggi. Novel ini dibuka dengan keraguan Alif untuk memasuki Perguruan Tinggi. Ia pesimis bisa diterima di ITB. Ia ingin seperti konco palangkinnya, Randai, yang sudah lebih dulu kuliah di ITB.
Alif berusaha keras dengan cara kembali mempelajari pelajaran SMA, kelas 1 sampai kelas 3, seorang diri, yang sesekali juga dibantu oleh Randai. Pelajaran tersebut tidak banyak dipelajarinya di Pondok Pesantren, kecuali bahasa Inggris, dan beberapa pelajaran lainnya. Akan tetapi, ia tetap saja merasa kesulitan, hingga akhirnya ia memutuskan untuk memilih program IPS, Jurusan Hubungan Internasional Unpad, sampai akhirnya diterima di sana.
Setiba di Bandung, Alif pada mulanya menumpang di kost-nya Randai, tetapi akhirnya ia memilih tetap kost di sana karena alasan biaya. Di sanalah ia berkenalan dengan Raisa, seorang gadis cantik yang juga kuliah di Unpad, yang kost tak jauh dari tempat mereka. Alif sangat senang melihat Raisa.
Dengan segala suka-cita, susah senangnya menjadi mahasiswa baru, cerita terus berlanjut ia bertemu dengan Bang Togar, seorang mahasiswa senior yang jago menulis, yang terkenal garang. Tetapi dengan kesungguhan hati, akhirnya Alif bisa belajar darinya, hingga akhirnya pun Alif meninggalkan pekerjaan-pekerjaan sampingannya untuk menambah uang dengan memutuskan menjadi penulis.
Di tengah jalan, Alif mendapat musibah yang sangat berat. Ayahnya meninggal dunia. Musibah itu membuatnya bimbang, apakah akan kembali ke kampung untuki membantu orang tua atau terus melanjutkan kuliah untuk mencapai cita-cita, menggapai impian demi impian. Kebimbangan itu terus berlanjut meski setelah ayahnya meninggal. Ia telah menuju ke Bandung, meneruskan kuliah.
Akhirnya, berkat banyak pelajaran moral yang didapat sambil lalu, serta dorongan yang tak hentinya dari Ibunya, Alif memutuskan untuk terus kuliah. Dan ia tetap meneruskan "kerja"nya sebagai penulis, untuk media cetak, daerah ataupun nasional.
Berkat kemampuan menulis inilah, Alif pun dipertimbangkan dan berhasil menerima program belajar enam bulan di Kanada. Ia bersama teman-teman dari daerah lain, termasuk Raisa yang juga lulus, menuju Kanada. Tapi sebelum itu mereka singgah di Amman. Yordania. Di sana mereka singgah beberapa hari.
Di Kanada, ia ikut menjadi reporter salah satu TV daerah. Kesempatan inilah yang membuat Alif berkeliling ke berbagai tempat, bertemu dengan hal-hal baru. Sementara itu, Raisa dan teman yang lain juga ikut terlibat dalam berbagai bidang, dalam rangka mengenal budaya di sana sembari mengenalkan Indonesia.
Alif pun mati-matian belajar bahasa Prancis di sana karena tak banyak yang bisa bahasa Inggris. Dan dengan tekadnya yang kuat, Alif mendapatkan penghargaan sebagai peserta terbaik.
Selama di Kanada, Alif semakin yakin bahwa ia sangat mencintai Raisa. Ia bertekad untuk mengungkapkan isi hatinya pada Raisa. Akan tetapi, sekembali dari Kanada pun ia belum sempat mengutarakan isi hatinya itu. Ia bertekad mengatakan sejujurnya pada Raisa ketika wisuda nanti.
Cerita dalam novel Ranah 3 Warna ini ditutup dengan kunjungan kembali Alif ke Kanada, "rumah keduanya" dulu, setelah sebelas tahun berselang.
Man Shabara ZhafiraMan Shabara Zhafira, siapa yang bersabar akan beruntung, adalah mantra utama dalam novel ini. Seperti yang cukup sering disampaikan penulisnya lewat dialog batin tokoh utama.
Alif dalam novel Ranah 3 Warna (R3W) digambarkan sebagai lelaki yang selalu berjuang keras untuk mendapatkan setiap apa yang menjadi impiannya. Kita bisa mendapatkan apa yang kita mimpikan bila kita mau berusaha, dan tentu saja bersabar, sembari terus berdoa kepada Tuhan.
Di satu sisi, sosok Alif dalam novel Ranah 3 Warna ini adalah sosok yang didambakan banyak orang: suka bekerja keras, pintar, paham agama, baik hati. Dengan sosok yang nyaris sempurna ini, Alif pun mempunyai beberapa hal yang baginya dirinya menjadi semacam kekurangan, seperti berasal dari keluarga kampung yang kurang mampu, tidak hebat dalam bidang kesenian, dan lain sebagainya. Alif pun hadir sebagai sosok yang tidak sempurna.
Tetapi sayang sekali, cara penggambaran tokoh yang dilakukan oleh A. Fuadi membuat karakter Alif tersebut tidak terasa mendalam. Sekilas memang, tokoh Alif penuh kelebihan-kekurangan, tetapi agak ganjil rasanya bila Alif yang sudah 4 tahun bergelimang dengan ilmu agama, ketika baru saja tamat dari Pondok Pesantren langsung terasa memiliki sifat pesismis yang tinggi, bahkan sifat pesisimis ini berlanjut terus pada hampir akhir cerita. Padahal pada novel Negeri 5 Menara, yang mana ilmu agama Alif belum "lengkap," ia tidak begitu pesimis. Pesimistis yang terjadi pada Alif adalah pesismis yang sewajarnya tidak terjadi lagi pada anak pesantren seperti Alif yang mana dicitrakan sebagai anak yang baik. Bila pun Alif tetap harus merasa pesimis, alangkah baiknya bila kualitas pesismisnya itu tidak sama dengan anak yang tak pernah mendapat bekal ilmu agama yang banyak.
Hampir setiap bab dalam novel ini berisikan masalah dan nyaris seluruh impian sang tokoh utama berhasil didapatkannya. Seperti si penulis novel ingin menyampaikan bahwa apappun yang kitamimpikan, akan tercapai bila kita bersungguh-sungguh lagi sabar. Misi pengarang cerita untuk hal tersebut sangat terasa, sehingga terkesan sangat nyiyir, bahkan mubazir.
Dan begitu banyak pertentangan yang dihadirkan si penulis cerita. Meskipun sebenarnya pertentangan itu terasa klise dan tidak menantang, seperti pertentangan antara kampung dan kota, timur dan barat, miskin dan kaya, bodoh dan pintar, dan lainnya. Semua pertentangan ini dimunculkan lewat pergulatan batin sang tokoh utama itu. Tidak ada konflik yang berhasil dikelola si pengarang dengan baik dan mendalam. Semuanya hadir, bahkan ada yang dipaksakan, dan hilang begitu cepat, disusul konflik lain, yang sekali lagi, sangat verbal untuk menimbulkan efek dari mantra Man Shabara Zhafira, siapa yang bersabar akan beruntung.
Meskipun begitu, di sisi lain, novel Ranah 3 Warna ini sangat cocok bagi anak-anak sekolah, terutama bagi mereka yang belum berani bermimpi. Karena novel ini ibarat pengalaman nyata seseorang yang telah sukses, lalu ia menceritakan pengalaman itu kepada anak-anak sekolah, atau setidaknya menjadi contoh bagaimana orang yang sukses tersebut bisa meraih kesuksesannya. Atau bisa saja kita sebut, novel ini adalah catatan harian yang ditulis dalam format novel, yang mana ada pengalaman yang menarik bagi kita, ada yang tidak menarik. Dan tentu saja, setiap orang akan punya pendapat sendiri. Akhir kata, marilah membaca! (*)
Dikutip dari : http://inioke.com/
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar